Harga Garam Rendah, Menurunkan Minat Petambak Membuat Lahan Produksi

Mangunlegi, 21 Juni 2020.

Garam merupakan sumber penghasilan utama warga Desa Mangunlegi yang mayoritas penduduknya memproduksi garam.  Harga garam yang terus merosot, menurunkan minat warga Desa Mangunlegi untuk mengolah tambak mereka sebagai lahan produksi garam. Harga garam pada tengkulak berkisar Rp. 150,- sampai Rp. 200,- perkilogram, tidak diimbangi dengan harga angkutan garam yang masih tinggi.

Angkutan Garam sendiri merupakan angkutan yang membawa garam dari lahan produksi ke tengkulak. Untuk Lahan produksi garam yang dekat dengan pantai sebesar Rp 65,- perkilogram. Setiap angkutan garam  mengangkat sebanyak 170 kilogram garam. Akibatnya hasil panen petani habis hanya untuk membayar angkutan garam tersebut.

Sukiman, salah satu petani garam mengeluhkan harga garam yang semakin rendah, minat untuk membuat lahan produksi menurun. Biasanya pada awal bulan Mei masyarakat telah mulai membuat lahan produksi tapi pada pertengahan bulan baru 2-3 petambak.

Marsana , salah satu petani garam mengatakan, pada akhir bulan juni ini sebagian besar masyarakat telah membuat lahan produksi garam. Seperti buah simalakama, jika tidak membuat lahan produksi maka tidak dapat membuat garam, sehingga tidak berpenghasilan. Jika membuat lahan produksi harga garam sangat rendah. Kami bergantung hidup pada garam, tambahnya.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan